Pagi menyambut… entah angin apa yang membuat dia (pagi) merasa sinis memandangku, halah..mungkin semua itu hanya aliran darahku yang tersendat oleh sempitnya simbiosis kehidupan, lalu segeralah ku tenggak air putih hangat…
Setidaknya semangat hidup harus aku tunjukkan di hari ini….weleh…weleh
15 menit kemudian aku mendengar ada suara teriakan sang teman, beranjak aku mengangkat beban tubuhku yang sangat di penuhi dosa dan nafsu ini menuju sumber teriakan….walah…walah…walah ternyata si fandi (temanku) sedang membetulkan genteng yang sedang bocor di terpa ganasnya hujan pada malam kemarin…
Ada apa bro? (teriakku)….tolong ambilkan besi panjang buat menopang kayu yang telah rusak ini (teriak fandi), kemudian aku bertanya besi yang mana sih bro?, karena aku tak tau model besinya maka sifandi (temanku) melemparkan sebuah koin Rp.500 ke tempat besi yang terletak…
Sejenak aku berfikir….
Tuhan seringkali menjatuhkan “koin” atau memberikan kemudahan rejeki yang berlimpah, agar manusia mau menengok ke atas, mengingat, menyembah, mengakui kebesaran-Nya dan lebih banyak bersyukur atas rahmat-Nya.
Tuhan sering kali memberikan begitu banyak berkat, rahmat dan kenikmatan setiap hari bahkan setiap detiknya kepada kita manusia. Seperti memiliki pekerjaan yang baik, kesehatan yang kita rasakan, kaki yang menopang tubuh, panca indra yang lengkap dan sempurna, rejeki yang kita nikmati setiap hari, keluarga yang bahagia, dan masih banyak lagi. Namun, sayangnya seringkali hal itu belum cukup membuat manusia mau memberikan perhatian, lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
Karena itu, kadang Tuhan menggunakan pengalaman menyakitkan, seperti menerima kegagalan, rasa sakit, kemiskinan, kesulitan, musibah, bencana dan berbagai pengalaman menyakitkan lainnya agar manusia mau menengok ke atas (berdoa), mengakui kebesaran-Nya, dan bersyukur atas rahmat-Nya.
Hendaknya hal itu semua bisa menjadi peringatan dari Tuhan untuk menarik perhatian kita, sehingga mempererat hubungan kita kepada Tuhan.
Sesungguhnya kebahagiaan dan kekayaan sejati di dunia ini ada di dalam rasa bersyukur.
Dan setelah aku mencapai titik sadar…semuanya aku lanjutkan hidup dengan berintropeksi diri.
ternyata tuhan mengingatkanku melalui seorang teman
Gubrak… Gubrak…Gubrak…jangan ngelamun aja ( kata si fandi)











